Home Article Kewajiban Pajak Sebagai Perwujudan Filsafat Nilai

Kurs Pajak

# Mata Uang Nilai (Rp.) Persen
USD USD 14,388.00 22.00
EUR EUR 16,819.73 -17.79
GBPGBP19,022.16 -11.84
AUDAUD10,656.46 -16.24
SGDSGD10,553.52 -10.44
JPYJPY12,808.61 -170.00
KRWKRW12.79 -0.10
JPYHKD1,833.07 2.37

* Note: u/ JPY=nilai Rp/100Yen

Nomor SK : Masa Berlaku :

USD  USD 14,388.00 22.00       EUR  EUR 16,819.73 -17.79      GBP  GBP 19,022.16 -11.84      AUD  AUD 10,656.46 -16.24      SGD  SGD 10,553.52 -10.44      JPY  JPY 12,808.61 -170.00      KRW  KRW 12.79 -0.10     

External Link

BSC Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday398
mod_vvisit_counterYesterday5174
mod_vvisit_counterThis week33487
mod_vvisit_counterLast week30050
mod_vvisit_counterThis month90111
mod_vvisit_counterLast month94515
mod_vvisit_counterAll days6999136


Designed by:
Kewajiban Pajak Sebagai Perwujudan Filsafat Nilai PDF Print E-mail
Written by Administrasi System   
Saturday, 26 April 2014 21:35

Oleh Taufik Achmad, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Sebagai bagian dari fitrah hidupnya, setiap manusia akan selalu berhadapan dengan berbagai pilihan hidup. Hal yang mendasari keputusan yang diambil  dalam menentukan pilihan dari berbagai pilihan hidup tersebut sangat dipengaruhi oleh sistem nilai yang dianut oleh masing-masing individu. Menurut J Sudarminta, Dosen Pasca Sarjana Magister Ilmu Filsafat STIF Driyarkara Jakarta, berdasarkan sistem nilai yang dimiliki dan dianut, kita memberi arah, tujuan dan makna pada diri dan keseluruhan hidup kita.

Selanjutnya J Sudarminta mengutip Max Scheler menjelaskan bahwa harus dibedakan antara pembawa nilai (manusia/masyarakat) dan nilai itu sendiri. Pembawa nilai sebagai pihak yang menghadirkan nilai adalah bersifat empiris dan dapat berubah-ubah, sedangkan nilai bersifat apriori yang artinya sudah ada dan diandaikan sebelum dialami serta bersifat tetap.

Dalam konteks moral, nilai kejujuran misalnya, akan tetap berlaku sampai kapanpun kendati semakin banyak orang dalam kenyataan secara empiris berlaku tidak jujur. Romo Franz Magnis Suseno mengatakan, Kebernilaian tidak bergantung dari apakah ada perbuatan yang menjelmakannya atau tidak. Nilai kejujuran tidak tergantung dari adanya orang jujur.

Dalam ilmu filsafat, kajian tentang nilai dikenal dengan istilah aksiologi yang bersumber dari bahasa Yunani yaitu axios yang berarti wajar dan logos yang berarti ilmu. Aksiologi lazim juga disebut sebagai teori nilai. Dalam aksiologi selalu dimunculkan pertanyaan apa itu baik? (What is good?)  yang tatkala sudah terjawab  kemudian akan dilanjutkan dengan pertanyaan berkaitan konsep moralitas tentang kepatutan (ought/should) apakah sesuatu yang baik itu kemudian patut atau pantas? Oleh karena itu Aksiologi merumuskan suatu teori yang konsisten tentang perilaku etis (Sadulloh, 2007).

Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Musa Asy’arie dalam artikelnya pada harian kompas tanggal 21 September 2013 menguraikan,  dalam aksiologi dibahas berbagai nilai: (1) nilai baik dan jahat yang berkaitan dengan perilaku, yang disebut dengan etika; (2) nilai benar dan salah yang berkaitan dengan pembentukan konsepsi, yang disebut dengan logika; dan nilai indah dan jelek yang berkaitan dengan suatu keindahan, suatu wujud yang disebut estetika.

Selanjutnya Prof. Musa Asy’arie mengatakan bahwa kebudayaan pada hakekatnya adalah kesatuan ketiga nilai itu dalam kesatuan karya, tindakan dan semua bentuk produk pemikiran manusia. Otak yang sehat adalah otak yang mekanisme berpikirnya mampu menyatukan ketiga nilai itu dalam suatu tindakan. Berpikir yang logis saja tidak cukup karena dalam implementasinya harus memperhatikan nilai etika sehingga memberi manfaat bagi kehidupan bersama, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk yang memenuhi nilai estetika sehingga memberi makna keindahan dan keharmonisan hidup.

Bagaimana dengan kewajiban pajak? selama ini kewajiban pajak lebih dipandang sebagai salah satu bentuk kewajiban kepada negara. Hal tersebut tidak keliru karena secara universal semua undang-undang negara diberbagai belahan dunia manapun menyatakannya seperti itu bahkan ketentuan pajak yang pemungutannya didasarkan oleh adanya undang-undang sejatinya mempunyai unsur memaksa. Kita semua sepakat melaksanakan kewajiban pajak adalah tindakan yang baik bahkan dalam ilmu filsafat sendiri, Kant berpendapat bahwa tindakan baik manusia didasarkan kepada kewajibannya (Wahana,2004).

Lalu bagaimana melaksakan kewajiban pajak berdasarkan teori nilai? Dari sudut pandang aksiologi, menurut Max Scheler, sebuah tindakan bernilai secara moral bukan karena kewajiban, melainkan menjadi kewajiban karena bernilai secara moral (Wahana,2004). Oleh karena itu aksiologi menempatkan kewajiban pajak jauh lebih mulia dari sekedar hubungan formal negara dan warganya. Nilai moralitas pelaksanaan kewajiban pajak bukan saja terletak pada diri wajib pajak pada saat yang bersangkutan melaksanakan kewajiban pajak secara baik dan benar tetapi juga pada manfaat uang pajak yang disalurkan bagi kesejahteraan bersama umat manusia.

Dalam pemahaman filsafat nilai, melaksanakan kewajiban pajak juga adalah peristiwa budaya, karena  kewajiban pajak yang dilaksanakan dengan baik dan benar hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mampu menyatukan nilai etika, logika dan estetika dalam kesatuan karya, tindakan dan pemikirannya. Melaksanakan kewajiban pajak dengan baik dan benar juga adalah hasil dari mekanisme otak yang sehat yang tidak saja secara logis memahami kewajiban pajak sebagai kewajiban warga negara tetapi secara etika juga mampu menyadari manfaat pajak bagi kehidupan bersama. Semuanya dikemas secara estetis tepat waktu, tepat cara dan tepat aturan.

Semoga kita semua dapat menjadi pribadi sehat yang mampu mengintegrasikan konsep-konsep nilai berdasarkan  logika, etika dan estetika dalam setiap gerak dan langkah hidup kita. Mengutip Prof. Musa Asy’arie : “Otak sehat ditandai dengan adanya mekanisme berpikir yang mampu menembus batas-batas dimensi fisik serta memasuki dimensi nilai-nilai dan spiritual agar dapat menyatukannya dalam tindakan yang memberi manfaat bagi banyak orang”.    .

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja

Sumber : http://www.pajak.go.id/content/article/kewajiban-pajak-sebagai-perwujudan-filsafat-nilai

Last Updated on Saturday, 26 April 2014 22:10
 

Add comment


Security code
Refresh

JoomlaWatch 1.2.12 - Joomla Monitor and Live Stats by Matej KovalArticle - Konsultan Pajak Semarang - Konsultan Pajak Semarang Konsultan pajak terdaftar di indonesia :: BSC TAX AND MANAGEMENT CONSULTANTS kini hadir memberi warna baru sebagai konsultan pajak yang handal dan terpercaya. Dipenuhi tenaga muda dan profesional, BSC TAX AND MANAGEMENT CONSULTANTS siap memberikan pelayanan yang terbaik bagi kebutuhan bisnis anda.      Tata Cara Penggunaan E-Faktur      Tarif Pajak : Pengertian, Dan Jenis Beserta Contohnya Secara Lengkap      E-Nofa Kemudahan Meminta Nomor Seri Faktur Pajak secara online      Panduan Cara Menggunakan Mengisi Aplikasi E-Faktur Ditjen Pajak      Zakat dan Pajak Dalam Islam